BENCANA MAKIN PARAH, HARGA KEBUTUHAN MAKIN MAHAL: DI MANA KEHADIRAN PEMERINTAH?

Kita hidup di negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi ironisnya, masih banyak masyarakat yang harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bencana terjadi di berbagai daerah, lingkungan semakin terancam, sementara harga bahan pokok terus menjadi beban bagi masyarakat kecil. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus bertahan dalam keadaan seperti ini?

Aksi Greenpeace di Bundaran HI dengan tulisan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tentang hutan yang rusak atau bencana yang datang silih berganti. Dampaknya juga sampai ke meja makan masyarakat. Ketika cuaca ekstrem mengganggu produksi pertanian dan distribusi pangan, harga kebutuhan pokok bisa ikut meningkat.

Yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat kecil. Mereka yang penghasilannya pas-pasan harus kembali menghitung pengeluaran, mengurangi kebutuhan lain, bahkan memutar otak agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Bagi sebagian orang, kenaikan harga mungkin hanya angka di pasar, tetapi bagi masyarakat yang hidup dengan penghasilan terbatas, kenaikan itu bisa menentukan apakah kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi atau tidak.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya hadir melalui pernyataan dan janji. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, mulai dari penanganan bencana yang cepat, perlindungan lingkungan, pengawasan distribusi pangan, hingga kebijakan yang mampu menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa upaya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya terlihat dalam angka.

Namun, persoalan ini bukan berarti seluruh kenaikan harga disebabkan oleh satu faktor atau semua bencana dapat dicegah sepenuhnya. Ada faktor cuaca, distribusi, biaya produksi, dan kondisi ekonomi yang saling berkaitan. Justru karena persoalannya kompleks, penanganannya harus serius, terencana, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, rakyat tidak hanya membutuhkan janji tentang kesejahteraan, tetapi bukti bahwa kesejahteraan itu benar-benar hadir dalam kehidupan mereka. Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar gedung yang semakin tinggi atau angka ekonomi yang terus bertumbuh, melainkan kemampuan masyarakat untuk hidup dengan aman, mendapatkan lingkungan yang layak, dan membeli kebutuhan pokok tanpa terus-menerus merasa terbebani.

Jangan sampai masyarakat harus menghadapi dua kesulitan sekaligus: takut ketika bencana datang dan cemas ketika melihat harga kebutuhan sehari-hari. Sebab, ketika lingkungan rusak dan biaya hidup semakin menekan, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi, tetapi juga hak masyarakat untuk hidup layak.

Bencana adalah peringatan, kenaikan harga adalah kenyataan yang dirasakan rakyat, dan kebijakan pemerintah harus menjadi jawaban nyata atas keduanya.

Penulis: Putri Haerun Nisa
Editor: Mursyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *